TEOLOGI KEESAAN ALLAH
Publisher, ISBN & more
- Publisher
- Geanarch Media Teknik, CV
Seluruh lembar sejarah, dari embusan napas pertama penciptaan di Taman Eden hingga gemuruh pujian di langit baru dan bumi baru, mengumandangkan satu kebenaran mutlak yang tidak tergoyahkan: Allah kita adalah Allah yang esa. Perjalanan teologis yang telah kita lalui bersama dalam buku ini bukanlah sekadar pencarian argumen akademik, melainkan sebuah kepulangan rohani menuju akar iman yang murni. Di tengah riuh rendahnya perdebatan dogma manusia yang mencoba membagi-bagi hakikat ilahi ke dalam rumus-rumus yang rumit, Alkitab berdiri kokoh sebagai saksi abadi bahwa Sang Pencipta tidak pernah berbagi takhta, kemuliaan, maupun esensi-Nya dengan pribadi lain mana pun. Dia adalah Tunggal, Mutlak, dan tiada tara. Keesaan Allah yang agung ini bukan lagi sebuah misteri yang jauh dan tak terjangkau ketika kita memandang kepada Pribadi Yesus Kristus. Di dalam Dialah, seluruh kepenuhan keilahian telah berkenan diam secara jasmaniah, menjembatani jurang pemisah antara takhta surgawi yang mahakudus dan debu tanah kemanusiaan kita. Ketika kita bersujud di kaki Salib dan menyerukan nama-Nya, kita tidak sedang menyembah sosok perantara atau pribadi kedua dari sebuah kelompok ilahi. Kita sedang berhadapan langsung dengan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub—Sang Bapa Kekal yang telah membalut diri-Nya dengan daging, menjadi Anak yang menderita demi menebus umat yang dikasihi-Nya. Oleh karena itu, respons kita terhadap inkarnasi yang radikal ini tidak boleh setengah-setengah, melainkan harus terwujud nyata dalam baptisan air dan kepenuhan Roh Kudus. Ketika perintah agung para rasul di dalam Kisah Para Rasul 2:38 digenapi melalui pencelupan total ke dalam nama Tuhan Yesus Kristus, seluruh otoritas langit dan bumi dilepaskan atas hidup kita. Roh Kudus yang kemudian mencurahkan diri-Nya dan mendiami hati kita bukanlah entitas kosmis yang berbeda, melainkan kehadiran spiritual dari Allah yang sama, yang kini bekerja dari dalam untuk mentransformasi, menyucikan, dan memeteraikan kita hingga hari penebusan akhir. Satu Allah yang merancang keselamatan, satu Allah yang mati di kalvari, dan satu Allah yang kini hidup di dalam kita. Pemahaman yang utuh mengenai keesaan Allah ini membawa implikasi yang menggentarkan sekaligus menguatkan saat kita menatap tanda-tanda zaman yang kian mendekati puncaknya. Eskatologi bukanlah panggung spektakuler bagi kepemimpinan kolektif beberapa oknum langit, melainkan sebuah proklamasi final tentang kedaulatan tunggal Kristus atas seluruh alam semesta. Di akhir masa kesengsaraan dan pertempuran Harmagedon, ketika tirai sejarah dunia ini akhirnya ditutup, seluruh mata akan melihat bahwa hanya ada satu takhta putih yang besar di surga. Di atas takhta tunggal itu, tidak duduk tiga entitas yang setara, melainkan satu Raja segala raja yang wajah-Nya memancarkan terang abadi bagi segenap makhluk kudus. Akhirnya, ketika kita melangkah keluar dari halaman-halaman buku ini dan kembali ke tengah dunia yang penuh dengan rupa-rupa angin pengajaran, bawalah keyakinan apostolik ini sebagai pelita yang takkan padam. Jangan biarkan iman Anda goyah oleh tradisi manusia yang mengaburkan keesaan-Nya, sebab keselamatan kita bergantung penuh pada pengenalan yang benar akan siapa Dia. Mari kita terus menghidupi kekudusan, mengabarkan berita injil kegenapan ini dengan berani, dan menanti dengan sukacita yang meluap hingga hari di mana kita semua berkumpul di Yerusalem Baru. Di sana, dalam kekekalan yang tanpa akhir, kita akan menyanyikan lagu pujian yang sama dengan para malaikat, bersujud menyembah satu nama yang mengatasi segala nama: Tuhan Yesus Kristus, Allah yang esa yang hidup selama-lamanya. Amin!
Rummaging the shelves…
Loading reviews…